Belajar dari anak anak pesisir pantai batu payung lombok (Lombok part 3)

10:32:00 PM

Lihat senyum mereka baikan panas-panas disiram es, adem
Pantai Batu Payung Lombok, salah satu pantai yang ada dilombok dengan pesona batu besar yang menyerupai payung makannya orang-orang menyebutnya Pantai Batu Payung. Saat itu saya berkesmpatan mengunjungi tempat ini. Begitu banyak hal yang membuat saya harus banyak bersyukur dengan keadaan saya sekarang.

Hanya ada satu Dusun (Dusun Padau namannya) yang ada di pesisir Pantai Batu Payung ini. Masyarakat sekitar yang pekerjaan sehari harinya menjadi nelayan. Namun ketika cuaca tidak mendukung mereka hanya bisa diam dirumah dan mengandalkan tanah yang mereka punya untuk bercocok tanam. Sementara sebagian warganya pergi merantau keluar kota mataram, bahkan sampai ada yang menjadi TKI dan meninggalkan anak-anaknya demi mencari pekerjaan yang layak.
Anak-anak seusia 6-9 tahun yang kebanyakan hidup dengan kakek dan nenek mereka. Anak-anak riang yang sepulang sekolah mengejar wisatawan untuk diantarkan ke lokasi Batu Payung dan hanya meminta upah 5.000 rupiah.

Anak-anak seusia mereka yang seharusnya bisa bermain dengan teman temannya dan belajar terpaksa membantu orang tuannya mencari nafkah untuk menyambung hidup. Saya berkesempatan mengobrol dengan anak-anak didusun padau ini, dan mendapatkan banyak hal.


  •  Hidup itu harus selalu bersyukur.
Anak-anak dengan segala keterbatasan. Harus bejalan jauh untuk sampai disekolah. Bahkan tanpa bekal uang jajan. Tapi mereka punya rasa Nasionalis yang tinggi. Malam hari kami semua berkumpul bersama anak-anak ini. Saya mencoba mengetest kemampuan mereka, dengan cara menyakan hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran. 

"ayo siapa yang bisa menyebutkan sila-sila dalam pancasila akan dapet susu coklat dari kakak" 

Mereka dengan antusias menyebutkan secara berurutan. Bahkan di minta untuk menyanyikan lagu-lagu Nasional pun mereka hafal.
Selain dengan anak-anak saya pun sempat ngobrol dengan kepala Dusun Padau. Dan banyak sekali informasi yang saya dapatkan. Meskipun agak susah nyambung berbicara dengan bapak kepala Dusun ini. Sepenggal percakapan saya dengan kepala Dusun Padau,
"Bapak kenapa belum tidur?"
"Setiap malam di Dusun ini wajib ada yang begadang untuk menjaga tv dan barang elektronik lainnya. karena sering terjadi pencurian"

Sedih sekali ketika mendengar jawaban bapak itu. Tv yang cuma ada satu di Dusun ini pun masih saja ada yang tega mencurinya.


  • Apapun keadaan kita harus selalu terlihat ceria.
Mereka yang harus memikirkan cara untuk mencari uang jajan. Menjual pasir-pasir pantai dengan harga 1.000 – 2.000 rupiah untuk satu botol akua. Tak jarang banyak wisatawan yang menolak mereka. Tapi mereka tetap dengan senyum dan tawa mereka menghantarkan wisatawan-wisatawan yang datang dan besedia menerima tawaran anak-anak ini untuk diantarkan ke Pantai Batu payung. Keceriaan terpampang jelas diwajah mereka. Hidup jauh dari kemewahan, hingar bingar kota dan moderenisasi, tidak mempuat warga Dusun Padau menjadi tertinggal. Didusun ini hanya ada satu televisi, setiap malam mereka semua berkumpul di rumah pemilik televisi dan nonton bareng.


  • Berusaha semampu kita untuk mendapkan yang kita mau.
Menjadi pemandu para wisatawan untuk sampai ke lokasi Pantai Batu Payung melalui jalan setapak di pinggiran tebing. Kebanyakan wisatawan menggunakan perahu untuk menyebrang ke Pantai Batu Payung melaluin Tanjung Aan. Padahal ada cara lain untuk sampai di Pantai Batu Payung. Yaitu melali Dusun Padau. Meskipun kita harus berjalan kaki sekitar 15 menit. Tapi kita bisa membantu anak-anak ini untuk menambah uang jajan mereka. Anka-anak yang kebanyakan memaksa para wisatawan untuk dihantarkan ke lokasi Pantai Batu Payung ini. Sisi pandang saya mengatakan ini wajar. Karena kalau buka dari wisatawan mereka bisa dapat uang jajan dari mana. Anak-anak seusia mereka rela berjalan tanpa menggunakan alaskaki. Miris sekali melihat di negara kita banyak sekali warganya yang hidup jauh dari kata layak, sedangkan banyak para pejabat negara hidupnya bermewahan.


  • Sekolah harus tetap jadi prioritas.
Anak anak di Dusun Padau ini tidak semua bisa bersekolah. Bahkan yang sekolahpun ada yang jarang hadir ke sekolah, karena tidak ada uang jajan bahkan ada yang terpaksa harus membantu orang tuanya dan bolos kesekolah.
Saya sempat menasehati mereka.

"Dalam Keadan apapun kalian harus tetap semangat kesekolah ya" 

Dalam keadaan apapun selagi kita masih bisa untuk sekolah sekolahlah. Sekolah harus tetap jadi prioritas.

Begitu banyak hal yang saya dapat di Dusun Padau ini. Sedih melihat keadaan anak-anak itu. Ingin rasanya membantu mereka. Mungkin dengan tulisan ini saya bisa memperkenalkan desa mereka dengan segala keramahannya dalam menyambut wisatawan. Di Pantai Batu Payung ini untuk tiket wisata dan parkir mereka tidak menetapkan berapa hargannya. Namun dengan keikhlasan wisatawannya.

Jadi Jika ingin ke Pantai Batu Payung disarankan melaluin Dusun Padau ya. kita hanya berjalan kaki 15 menit saja dan kita juga bisa membantu anak-anak diDusun ini.


Tulisan ini berkontributor di phinemo.com 

You Might Also Like

0 komentar

DIDUKUNG OLEH

Google+ Followers