Ethnic Runaway, kampung Baduy dalam

1:13:00 PM

Kali ini temanjalanid mengajak saya untuk melihat betapa berharganya hidup ini. Tujuan kita kali ini ke pedalaman suku Baduy. Saya bersama mahasiswa dari untirta. Jumlahnya ratusan tapi kali ini hanya menjadi guide mereka. Oalah gimana mau ngeguide mereka kebaduy ajah baru kali ini.

Untungnya mereka semua (mahasiswa untira khususnya semester 5) ramah-ramah dan pecah banget. Suku baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sunda yang bermukim di daerah kabupaten lebak banten, Mereka adalah salah satu masyarakat yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Mereka tidak terpengaruh moderenisasi sama sekali (hebatkan)

kampung baduy luar
selfie dikampung baduy luar

sehari disana saya dapat banyak sekali pelajaran hidup yang sangat berharga. Pengen sih lama-lama disana,  tapi apalah daya besok saya harus kembali bekerja.
Untuk sampai di kampung baduy dalam kita harus berjalan melewati 6 pemukiman suku baduy luar yang jaraknya lumayan membuat kaki saya pegal-pegal. Jalur yang kita lewati hanya sebatas jalan setapak. Beruntungnya saya menggunakan guide local yang akan menghantarkan kita semua sampai di baduy dalam untuk bermalam.

Ini namanya kang sapri guide lokal (kuat sekali dia)
Namanya kang sapri dia baik sekali dan sangat kuat. Bayangkan dia membawakan tas-tas wanita yang tidak kuat untuk mereka bawa. Tetapi saya tetap membawa tas saya sendiri.

warga kampung baduy luar kesehariannya lebih sering digunakan untuk menenun kain
Kampung baduy Luar
pemandagan yang terlihat saat menunggu elf menjemput
kang sapri dan ayah
Star tracking untuk menuju baduy dalam jam 1 siang, namun jam 4 sore kami baru melewati 5 kampung baduy luar namun hujan deras mengguyur jalur kami. Alhasil jalur yang kita lewati menjadi sangat licin itu membuat langkah kami semakin berat. Hari pun mulai gelap kami masih dalam perjalanan. Memasuki kawasan baduy dalam. Kita tidak boleh memotret apapun disana. Mandi menggunakan bahan kimia pun tidak di perbolehkan. Kami sangat menghargai mereka. tidak ada kamar mandi disana. Jika ingin mandi atau sekedar baung air kecil bisa pergi kekali.

Selesai beres–beres kami memulai percakapan dengan kang Sanip. Banyak sekali pertanyaan yang saya tanyakan dan dia menjawabnya dengan santai. Dalam benak saya terfikir “bagaimana saya bisa hidup disini tanpa gadjet, tanpa medsos ?” harusnya kita banyak belajar dari mereka semua.  Diantara semua pertanyaan yang saya tanyakan saya tidak pernah lupa dengan percakapan saya seperti ini,
“disini bagaimana belajarnya kang? Sedang sekolah saja tidak ada?”
“kami semua  tidak pernah bersekolah”
Sejenak saya diam “terus bagaimana akang bisa membaca?”
“saya tidak pernah sekolah, saya hanya belajar dari ayah dan ibu saya saja”
Yang membuat saya sangat heran mereka semua tidak pernah bersekolah tapi mereka semua sangat hebat. Bisa membaca bisa menulis dan bisa berbahasa inggris meskipun terbatas!
Malam semakin larut, gelap dan tidak terlihat apapun selain langit dengan bintang-bintangnya. Kami semua tertidur. Sedangkan saya tidak bisa tertidur pulas. Bukan karena tidur tanpa kasur atau lapu, tetapi karena saya kedinginan dan berusaha untuk tidur, karena besok pagi saya dan rombongan akan melanjutkan perjalanan lagi.

Rencana pulang tidak mau lewat jalur cibuleger lagi, pulangnya kami lewat jalur cijahe. Trak yang kita lewati lebih pendek memerlukan waktu 1 jam kata kang sapri, kalau orang baduy lewat cijahe hanya 15 menit loh...

Pagi cepat sekali menyapa, hari sudah mulai terang kami semua bersiap-siap untuk segera melanjutkan perjalanan pulang. Jam 8 kami mulai tracking kembali melalui jalur cijahe. Jam sepuluh kurang kami sudah tiba dicijahe. 

jalur yang kita lewati melalui cijahe
Istirahat sambil menunggu mobil elf yang akan menjemput kami. Perjalanan kami tidak cukup sampai disini. Jam 12 elf yang menjemput kami sudah tiba dan kami semua langsung bergegas menuju stasiun rangkasbitung. Jalur menuju stasiun rangkas yang kita lewati lebih parah dar sebelumnya. Jalannya berbatu, licin dan banyak lubang . 2 ½ jam perjalanan menuju stasiun rangkasbitung kami semua berpisah di stasiun. Saya dan arie naik kereta jurusan jakarta sedangkan rombongan yang lain naik kereta menuju serang. Langsung membeli tiket dan ternyata stasiun di penuhi banyak orang. Keretanya sudah datang dan saya langsung mencari tempat duduk. Berpisah dengan rombongan dan kami kembali kejakarta.

Terimakasih untuk perjalanannya yang singkat temanjalanid

Terimakasih kang sapri dan keluarga yang mengajarkan saya banyak hal.

Terimakasih baduy! Pertahankan terus prinsip kalian.

You Might Also Like

0 komentar

DIDUKUNG OLEH

Google+ Followers