Tanah Tertinggi Dieng. Mt Prau 2.565 mdpl

11:31:00 PM


Ini sih namanya kecanduan!!!
Racunya sudah benar-benar mengalir di seluruh darah, kali ini gue mencoba untuk menapak di tanah tertinggi yang ada di Dieng.
Sebelum napak di Dieng cari tau dulu yuk sejarahnya gimana?
Nahh ...
Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda ("di hyang") karena diperkirakan pada masa pra-Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh. 
Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng ("Dieng Wetan"), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah
(sumber Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia)

Sedikit info tentang dataran tinggi Dieng yang gue ambil dari Google. Perjalanan kali ini yang paling berkesan diantara perjalanan gue yang lainnya. Seru! Satu kata yang banyak maknanya.
Kebetulan Kali ini gue berangkat dari Jakarta malam hari karena rombongan yang awalnya rencana berangkat malam hari menggunakan kereta api ternyata batal. Rombongan berangkat mengunakan Bus sore hari dan gue nyusul naik kereta api (rencananya) tapi apa boleh buat tiket kereta api habis dan gue yang memang bareng sama Regina. Kami baru kenal melalui telepon yang sengaja kang dens kasih lewat pesan singkat.

Janjian dengan Regina distasiun pasar senin jam 8.30 malam. Kami naik travel yang akan mengantar kami hingga Wonosobo. Travel yang memang menuju Yogya ini rencana awalnya ingin mengantarkan gue dan Regina ke Wonosobo dulu. Namun sayangnya ditengah perjalanan supirnya pun berubah haluan mereka ingin mengantarkan kami tetapi kami harus ikiut mereka ke Yogya terlebih dahulu. Secara kami pun sudah ditunggu oleh rombongan di desa Patak Banteng (Dieng)

Akhirnya gue dan regina pun sepakat untuk minta diturunkan saja di tengah perjalanan karena tidak mungkin jika kami harus ikut mereka keYogya terlebih dahulu.
Sebelum terminal Ajibarang kota Tegal pun kami diturunkan oleh pengemudi travelnya dan kami langsung menyambung dengan bus kecil menuju terminal purwokerto dengan penuh perjuangan dan kerja keras (ceritanya). gue dan Regina pun sama sekali buta sama wilayah ini. kita hanya percaya bahwa supir dan kernek bus tersebut gak akan tega ninggaln kita ditengah jalan. sekitar 1 jam perjalanan menuju terminal Purwokerto. sampai di terminal kami langsung mencari bus menuju kota Wonosobo yang diperkirakan 3 jam perjalanan. Alhamdulillah kami bertemu dengan bapak supir yang baik hati yang dengan ramah berbagi cerita dengan kami, bukan hanya itu bapak supir ini pun banyak memberikan kami informasi mengenai jalur dan angkot yang akan kami tumpangi untuk menuju desa Patak Banteng (dieng). Sampai diWonosobo pun kami masih harus naik 2 angkot untuk sampai dilokasi. Lanjut perjalanan gue dan regina layaknya anak ilang yang nyasar dikota orang broh!

Modal nekat dengan uang dikantong yang memang pas-pasan, akhirnya jam 2.30 siang kami sampai di basecamp desa Patak Banteng.


Rombongan sudah mulai mendaki sejak kami sampai diWonosobo. kemungkinan ketika kami sampai di basecamp mereka sudah sampai di puncak Prau. Turun dari bus kami disambut oleh dua laki-laki yang kebetulan penjaga toko outdor. Sesuai wejangan dari kang dens kami harus segera menemui mas pi'i, namun sayang ketika kami bertanya kepenjaga toko outdor mereka bilang mas pi'i sudah berangkat. akhirnya kami istrahat dan meluruskan badan setelah perjalanan yang sangat boros energi itu, sambil menunggu kang dens yang berencana ingin menjemput kami. penjaga toko outdor tersebut pun sangat baik. mereka menunjukan foto-foto indahnya saat matahari terbit dari puncak prau.

Tiba-tiba telepon berdering dan itu dari kang dens. dia meminta kami mencari mas pi'i lagi di basecamp. langsung saja saya dan regina bergegas menuju basecamp yang kebetulan tidak terlalu jauh dari toko outdor. jalan kaki menuju basecamp dan akhirnya kami bertemu dengan mas pi'i.
Dia sangat baik dan bersedia mengantarkan kami ke puncak untuk bertemu dnegan rombongan. bahagia tak terkira  bertemu orang-orang baik.

Mas pi'i menyarankan kami untuk segera berkemas agar tidak terlalu larut untuk menuju puncak.
4.45 sore kami mulai star pendakian dari rumahnya mas pi'i. perkiraan 2-3 jam pendakian kami sudah sampai dipuncak. jalan setapak yang kami lalui, melewati ladang dan kebun kentang milik warga sekitar. udaranya yang sejuk ditambah dataran yang berbukit menambah indah ciptaanNya.


Sejam perjalanan kami pun tiba di pos 2 dan disuguhi pemandangan yang subhanallah luarbiasa indahnya. perpaduan langit dan matahari yang akan segera terbenam dengan indah.
Pemandangan yang terlihat dari pos 2.


Narsis-narsis itu penting dan gak lupa, lanjut perjalanan yang sedikit curam menanjak ini pun kami lewati dengan gelap-gelapan karena matahari memang sudah terbenam sejak tadi. tepat azan isya kami sampai dipuncak dan bertemu dengan rombongan.
Satu hal yang paling berkesan. di puncak gunung saya masih mendapatkan sinyal. oh ini tentunya menjadi catatan pribadi saya. karena ini satu-satunya gunung yang pernah saya daki dan sinyal hadpone saya pun full.

Istrahat dan masuk tenda, yang memang sudah dibangun oleh rombongan sejak siang. udara yang sudah mulai terasa dinginnya hingga menembus sleeping bag dan jaket yang saya gunakan pun membuat saya tidak bisa tidur dengan nyenyak. menunggu fajar. tepat jam 5 pagi kami segera bangun dan keluar dari tenda untuk menyaksikan matahari terbit.
dinginyaa udara pagi hampir membuat saya beku. bermodal jaket tebal kami pun menatap langit yang sudah berwarna orange .menantikan matahari yang akan muncul pagi itu.

Ibarat nilai dari Bu guru kalo 1-10 dan 10 itu terbaik, gue bakal kasih nilai 11, Sempurna golden sunrice. Allah punya caraNya sendiri. 
Narsis itu sepertinya kebutuhan... heehehhe
puas narsis kita harus segera berkemas packing untuk persiapan turun. 

JANGAN SAMPAI LUPA YAA SAMPAHNYA DI BAWA TURUN LAGI LOH!!!

okeh gak lupa sarapan dan dilanjut lagi packingnya. semua selesai lanjut gue dan rombongan langsung turun, waktu turun yang dibutuhkan hanya sekitar 1 jam loh. cepet bukan!
Tiba dibasecamp bersih-bersih makan belanja oleh-oleh khas Dieng yaitu buah Carica.
Dan perjalanan pun dilanjut dengan berkeliling kota dieng ini. salah satunya yaitu Telaga warna, yang memang gue nanti-nanti banget kalo ada kesepatan buat ke Dieng, inilah kesempatan itu...
Gimana sih Telaga warna?
Gak perlu dijawab gue rasa, langsung ajah liat fotonya yah :)

Nahhh itu oleh-oleh dari Negerinya Para Dewa...
Keren banget pokonya!
Dan udah saatnya kita kembali ke Jakarta,
 
Makasih buat Perjalanannya:)
Makasih juga buat pengalamanyaa, semakin sering melakukan perjalanan semakin banyak semua yang di dapat (teman, ilmu, pengalaman dll)
Jangan bosen-bosen yaaa buat melihat indahnya INDONESIA .
Salam Lestari :))))


You Might Also Like

0 komentar

DIDUKUNG OLEH

Google+ Followers